Minggu, 13 Desember 2015

sunset

                   cinta itu indah,seindah warna orange
              saat matahari tenggelam di ufuk timur

    Sang surya telah kembali ke tempat peristirahatannya. Warna orange yang memancar di ujung sana mulai meredup. Seorang Gadis tengah duduk di bibir pantai dan memperhatikan terjadinya sunset di sana. Sangat indah. Berkali-kali Ia memotret sunset tersebut dengan kameranya. Setelah hampir setengah jam Ia duduk dan menyaksikan sunset akhirnya Ia beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali ke rumahnya. Karena Ia harus cepat kembali ke rumahnya sebelum makan malam. Saat sampai di dalam rumahnya seorang lelaki berkacamata dengan suara yang berat bertanya padanya.
"kali ini objek apalagi yang Kamu potret?"
"sunset"jawabnya pendek. Lelaki itu mengangguk. Gadis itu segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju dengan piyama. Setelah itu Ia turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu. Tak ada yang membuka suara. Setelah selesai makan barulah ibu dari Gadis itu membuka suara.
"Shilla" Shilla -yakni nama Gadis itu- mendongkak.
"ya, bu?"
"ibu kemarin baru saja membuat kue, tolong Kamu beri ke tetangga kita yang baru, ya. Rumahya ada di sebelah rumah kita" Shilla mengangguk. Ibu dari Gadis beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kue buatan beliau. Lalu beliau kembali dengan membawa kotak berukuran sedang yang berisikan kue kering. Beliau menyerahkan kotak berukuran sedang itu pada Shilla.
"ini tolong berikan pada bu Rahmi"
"baik bu" Shilla mengambil kotak tersebut dan segera memakai jaketnya dan pergi keluar, menuju rumah yang di maksudkan ibunya. Saat sampai di depan rumah tersebut Shilla langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Lalu seorang lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih membukakan pintu tersebut. Tangannya yang putih memegang botol bir.
"ada apa?"
"i.. I.. Ini ada kue kering dari ibuku untuk bu Rahmi"jawab Shilla gugup sambil menyerahkan kotak yang berukuran sedang yang berisikan kue kering buatan ibunya Shilla. Lelaki itu mengambil kasar kotak yang berisikan kue kering.
"oh. Thanks. Nyokap Gue belum pulang, nanti kalau udah pulang Gue kasih tahu"
"iya sama-sama, tolong.." lelaki itu langsung menutup pintu rumahnya secara kasar sebelum Shilla menyelesaikan ucapannya.
Shilla mendecak. "tidak sopan sekali!"
"kalau Loe gak mau celaka mending Loe pulang!"ucap lelaki itu yang sudah berada di dalam rumahnya. Lagi-lagi Shilla mendecak dan kembali ke rumahnya. Saat sampai di dalam rumah ia mendesah berkali-kali. Menyebalkan!. Berkali-kali juga Ia mengumpat dalam hati. Lelaki itu sangat tidak sopan. Apalagi nafasnya, bau alkohol. Lelaki itu seperti sudah minum minuman beralkohol sampai mabuk. Lelaki yang tak punya sopan santun. Shilla merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dan perlahan matanya mulai menutup. Dalam hitungan detik Shilla sudah terlelap dalam tidurnya. Terbuai dalam mimpinya yang indah.
    Beep-beep. Beep-beep. Suara alarm dari jam weeker Shilla telah berbunyi sangat nyaring. Shilla mematikan jam weekernya dan menggeliat lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Setelah selesai Shilla langsung memakai kaos polos berwarna pink dengan celana pendek selutut dan mengambil kardigartnya yang berwarna pink. Tak lupa kamera yasicha 108 yang selalu Ia gantungkan di lehernya. Ia memakai sepatu flath berwarna pink sepadan dengan kardigartnya. Ia telah sampai di bibir pantai. Ia bersama dengan kameranya bersiap untuk memotret matahari terbit dengan warna orange yang indah. Klik!. Shilla kembali memotret objek yang sama dengan arah yang berbeda. Shilla melihat-lihat hasil potretannya sambil berjalan, otomatis Ia tak memperhatikan setiap jalan yang Ia lewati. Bruk!. tubuhnya bertabrakan dengan tubuh seseorang, alhasil Shilla terjatuh. Namun bukan itu yang membuat Shilla marah. Kamera yang sedang Ia pegang terjatuh dan mengenai batu yang berujung tajam samapai mengakibatkan lensanya pecah. Fotonya memang masih bisa terlihat namun Ia tak dapat memotret lagi karena lensanya pecah. Shilla menitikan air mata. Kamera ini adalah hadiah ulang tahun dari kakaknya sebelum kakaknya pergi ke Austria dan sekarang pesawatnya menghilang serta hampir seluruh korban belum di temukan termasuk kakaknya yang sudah memberinya kamera analog tersebut.
"kok Loe nangis sih?"tanya lelaki berkulit putih yang berdiri tepat di depan Shilla. Shilla langsung menghapus air matanya lalu bangkit dan pergi dari tempat itu. Namun lelaki itu segera menahan langkah Shilla.
"Loe belum jawab pertanyaan Gue" Shilla memicingkan matanya dan mendelik sebal. Ia melihat wajah lelaki itu sekilas, dan Ia teringat bahwa lelaki itu adalah lelaki yang Ia temui saat Ia memberikan kue kering pada bu Rahmi alias ibu dari lelaki tersebut dan Lelaki yang sangat menyebalkan.
"Aku tak ingin celaka dan Aku ingin pulang" Shilla berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Lelaki tersebut.
"tunggu! siapa yang akan nyelakain Loe?" Shilla terdiam lalu Ia berfikir bahwa lelaki yang ada di hadapannya benar-benar sedang terpengaruh alkohol tadi malam. Shilla melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki yang ada di hadapannya dan.. Berhasil!. Ia langsung pergi dan menjauh dari tempat itu. Saat Ia sudah jauh dari tempat lelaki itu berada, Ia duduk diatas gundukan pasir dan melihat pasang surutnya air di pantai. Ia kembali mengutak-atik kameranya yang rusak. Ia segera mengambil kartu memori yang ada di dalam kamera sebelum kartu itu ikut rusak. Air matanya kembali menetes. Pasalnya ini adalah kamera yang sangat berharga bagi Shilla. Jika Ia rindu pada kakaknya yang sudah lama di kabarkan menghilang itu Ia bisa melihat foto-foto Dia bersama kakaknya sebelum kakaknya di kabarkan menghilang dan sekarang Ia tak bisa melihat foto-foto itu lagi bahkan tak bisa memotret dengan kamera itu. Perasaan marah, sedih dan kesal berkecamuk di dadanya karena satu orang lelaki yang tidak jelas asal-usulnya dan selalu membuatnya jengkel. Dengan perasaan seperti itu Ia kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Ia terus memandangi kameranya yang sudah rusak. Air matanya yang sedikit demi sedikit menetes Ia usap agar orang tak melihatnya yang sedang menangis. Saat Ia sampai di rumah seperti biasa lelaki berkacamata dengan suara berat bertanya padanya. Dengan pertanyaan yang sama. Namun kali ini Shilla langsung memeluk tubuh lelaki itu dengan erat dan menangis terisak. Lelaki itu mencoba menenangkan Shilla yang menangis sampai terisak-isak sambil memegang kamera yang selalu Ia bawa.
"kak Goldi"ucap Shilla pelan di sela isakan tangisnya
"iya, kenapa Shilla?"
"kakak tahu, kan kamera yang selalu Aku bawa kemana-mana?" kakaknya yang bernama Goldi itu seraya mengangguk.
"yang dari kak Ray" Goldi kembali mengangguk. Shilla terlihat takut kalau-kalau Goldi malah memarahinya karena kamera yang di beri Ray untuknya telah rusak walaupun tidak disengaja.
"rusak"
"rusak apanya?" prediksi tentang Goldi yang akan memarahinya ternyata salah besar. Goldi malah menjawabnya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap adik semata wayangnya.
"tadi pas di pantai Shilla gak sengaja tabrakan sama orang terus kameranya jatuh dan lensanya... pecah" Goldi tersenyum lalu mengacak-acak rambut adiknya dengan pelan.
"yaudah kita ganti aja lensanya" Goldi kembali terseyum begitupun dengan Shilla,Ia tersenyum sangat antusias. Ia masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya memeluk kembali Goldi dan berterima kasih. Shilla berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan yang langsung ke arah pantai yang indah. Udaranya sangat sejuk. Menyapu lembut kedua pipi chubby Shilla. Jangan salah karena pipi chubbynya Shilla terlihat sangat manis. Dari situ Ia bisa melihat seseorang dengan asyiknya bermain dengan ombak menggunakan papan surfing. Sebuah pesawat kertas mendarat tepat di pelipis Shilla. Shilla mengambil pesawat kertas itu. 'Gue Alvin,dan Loe?'. Shilla mengerutkan keningnya. Siapa orang yang tak mempunyai hal lain selain membuat orang jengkel. Shilla terdiam. Kemudian Ia ingat seseorang. Lelaki chinesse yang kemarin dan tadi Ia temui. Lalu Ia melirik ke sebelah kanan, lelaki itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Shilla. Dan benar saja Lelaki chinesse itulah yang mengirim tulisan lewat pesawat kertas yang kini ada di tangan Shilla. Kemudian Shilla membalas surat itu dengan pesawat kertas juga. 'Jadi namamu Alvin. Nama yang bagus. Namun tidak cocok dengan tingkahmu yang menjengkelkan'. Segera Ia menerbangkan pesawat kertas itu menuju balkon kamar yang ada di sebelah balkon kamarnya. Alvin menaikan sebelah alisnya setelah membaca isi surat yang ada di pesawat kertas. kemudian tersenyum. Ia segera mengambil pulpen dari dalam sakunya dan menuliskan sesuatu di pesawat kertas yang lain. Setelah selesai menulis Ia kembali menerbangkan pesawat kertas itu pada Shilla. 'Jadi tingkah Gue buat Loe jengkel? ok deh,Gue minta maaf. Tapi bolehkan Gue tahu nama Loe?'. Shilla tersenyum saat membaca balasan dari Alvin. Dan pandangannya yang semula pada seorang lelaki mancanegara yang sedang bermain papan surfing pandangannya kini menjadi pada Alvin. 'Yaudah gak pa-pa,kok. Aku Shilla'.

    Suatu kebetulan yang tak pernah di ketahui oleh Shilla akan membekas dan begitu berarti. Awalnya hanya perkenalan singkat,lalu mereka berkirim pesan dan mereka menjadi cukup dekat. Ada perasaan aneh yang Shilla rasakan saat Ia bersama dengan Alvin. Apakah ini sebuah tanda bahwa Shilla mencintai Alvin?. Ia tak ingin memusingkan hal itu,karena Ia juga takut salah persepsi tentang perasaannya terhadap lelaki chinesse tersebut.
"Shilla!"panggil Goldi yang berada di bawah dan sudah siap untuk mengantar Shilla mengganti lensa kameranya.
"iya,kak" Shilla menyahut dan segera turun ke bawah untuk menemui Goldi. Mereka segera masuk kedalam mobil dan berangkat menuju tempat yang mereka tuju. Setelah sampai di tempat yang mereka tuju,Shilla langsung masuk ke dalam tempat tersebut sambil menarik tangan Goldi untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Goldi tersenyum dan mengacak pelan rambut halus Shilla. Shilla langsung melihatkan dimana tempat rusaknya kamera tersebut. Orang tersebut mengagguk dan mengatakan bahwa kameranya rusak tak begitu parah dan bisa di perbaiki. Shilla hanya akan menunggu satu jam saja. Membosankan,gerutu Shilla dalam hati. Shilla mendengarkan musik dari ipodnya sedangkan Goldi sedang menelphone kekasihnya yang berada di luar kota. Satu jam sudah Shilla menunggu kamera kembali di perbaiki,dan sudah selesai. Kameranya sudah selesai di perbaiki. Shilla segera menemui orang yang telah memperbaiki kameranya. dan mengucapkan terimakasih tak lupa ia membayar dengan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"finally!"seru Shilla kegirangan. Ia segera menghampiri kakaknya yang masih berbicara lewat telephone seluler dengan kekasihnya dan memperlihatkan kamera yang baru saja di perbaiki. Goldi tersenyum dan menutup telephonenya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka. saat di tengah perjalanan menuju rumah mereka Shilla menyuruh Goldi untuk berhenti. Shilla akan pergi kepantai dan kembali memotret di pantai tersebut. Goldi menurut dan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Shilla berjalan kegirangan menuju pantai dan memotret objek. Seperti seseorang yang sedang bermain layangan,berjemur atau bermain ombak dengan papan seluncur.

Saat ku tenggelam dalam sendu
waktu pun enggan untuk berlalu
ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
entah untuk siapapun itu

semakin ku ingat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
tetapi satu sinar terangi jiwaku
saat ku melihat senyummu

dan kau hadir merubah
segalanya menjadi lebih indah
kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku merasa sempurna


Adera-lebih indah

tiba-tiba saja ponsel Shilla bergetar. Shilla langsung mengambil ponselnya di dalam saku. Satu  panggilan dari Alvin. Shilla segera menjawab panggilan tersebut.
"ya,hallo"
"hai, Loe sibuk gak hari ini?"
"nggak sih, cuman Aku lagi motret pemandangan di pantai"
"oh, bisa nengok ke belakang?" Shilla menoleh dan mendapati seorang lelaki putih yang berdiri tepat di belakangnya dengan senyumannya yang khas dan lambaian tangan yang seperti biasanya. Shilla segera mematikan sambungan telephonenya. Alvin berjalan ke arah Shilla. Shilla tak menghiraukannya Ia malah asyik berkutat dengan kameranya. Sesaat menyadari bahwa Alvin telah berdiri di sampingnya kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya. Dan Ia memakai topi berwarna hitam yang di pakai terbalik. 'tampan' gumamnya dalam hati. Tanpa Ia sadari Ia terus memperhatikan wajah lelaki itu.
"kenapa? Gue ganteng ya?" Shilla tersadar dari lamunannya. Padahal baru saja Ia memuji Lelaki itu tetapi Lelaki di hadapannya ini selalu membuatnya jengkel.
"ge-er banget sih,vin. Siapa coba yang bilang kamu ganteng?"
"banyak,Loe aja yang gak tahu"
"oh ya? siapa aja?"
"tak terhingga"
"lebay kamu,Vin" Alvin terkekeh. Mereka menghabiskan waktu di pagi hari ini dengan tertawa bersama di bibir pantai. Sambil menikmati desau angin yang berhembus. Shilla memperhatikan wajah oriental Alvin. Tampan. Kata itulah yang selalu tersirat di benak Shilla saat melihat wajah Alvin. Ia tak pernah tahu perasaannya terhadap Alvin. Apakah Ia hanya sekedar suka saja atau malah sudah melewati batas suka antara lain: cinta?. Shilla menundukan wajahnya dan memikirkan perasaan apa yang Ia miliki kepada lelaki tampan namun menjengkelkan ini.

  Shilla menghempaskan nafasnya. Sudah satu jam nomor Alvin tak dapat di hubungi. Pasalnya Shilla takut terjadi apa-apa pada Alvin apalagi Dia sering meminum minuman beralkohol dan juga Shilla takut bahwa Alvin membawa kendaraan sendiri dan setelah itu terjadi sesuatu dengannya. Shilla menutup wajahnya dengan kedua tanganya seraya dapat menghilangkan pikiran negatifnya ini dari kepalanya. Shilla berjalan menuju balkon kamarnya. Menoleh ke sebelah kanan dan tak ada lelaki menjengkelkan itu di sana dan rumahnya tampak kosong.
  Shilla merasa ada yang aneh pada perasaannya dan merasa ada sesuatu yang bergejolak di hatinya saat dekat dengan Lelaki itu. Perasaan itu tak bisa Ia hindari. Bahkan terlalu sulit untuk di hindari. Semuanya terjadi secara tidak sengaja. Sesuatu yang awalnya biasa menjadi begitu berarti. Kekhawatiran itu selalu menyelimuti Shilla saat lelaki itu tak berkabar dan tidak ada di balkon kamarnya. Saat Shilla akan masuk ke kamarnya tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah. Shilla mundur kembali dan mendengar bahwa sumber suara ribut itu dari rumah seorang lelaki yang sedang Ia fikirkan.
~ ~
  Pertengkaran orang tuanya selalu terjadi setiap saat dan Alvin selalu terbebani dengan pertengkaran ayah ibunya itu. Dia selalu di sudutkan orang tuanya. Ia selalu merasa bahwa Ialah faktor utama penyebab orang tuanya bertengkar. Jika Alvin di perbolehkan untuk memilih,Ia akan memilih untuk dilahirkan dan di besarkan oleh kedua orang tua yang lain atau bahkan Ia akan memilih untuk tidak di lahirkan sama sekali di dunia ini. Pertengkaran ayah dan ibunya membuatnya semakin berfikir bahwa untuk apa Dia di lahirkan di keluarga ini. Emosinya sudah memuncak,akhirnya Ia meluapkan emosinya dengan menonjok kaca besar yag ada di kamarnya. Darah mengalir dari punggung tangannya. Namun cukup membuat orang tuanya berhenti bertengkar dan masuk ke dalam kamar Alvin. Mereka sangat terkejut saat melihat Alvin yang sedang duduk di sudut tembok kamarnya dan menenggelamkan wajahnya dalam tekukan lutut. Darah masih saja terus mengalir dari punggung tangannya sampai-sampai membanjiri punggung tangannya.
"Alvin,Kamu kenapa?"tanya ibunya lembut
"kalian yang kenapa!? bukan Alvin. Apa kalian gak capek terus-terussan bertengkar setiap malam!? apa kalian gak malu di denger sama orang-orang!? Alvin malu mah,pah!" jawab Alvin penuh penekanan. Darah yang keluar dari punggung tangannya tidak sakit sama sekali karena yang lebih sakit adalah hatinya. Setiap malam harus mendengar ayah dan ibunya bertengkar.
Alvin melanjutkan ucapannya "kalian tahu kenapa Alvin kaya gini? itu semua karena kalian? kalian selalu memikirkan kakak yang jelas-jelas udah tenang di surga. kalian selalu meributkan kakak yang punya IQ tinggi sampai lupa kalau kalian punya satu anak lagi yang bego" ibunya tertegun mendengar penuturan Alvin.
"Alvin!" bentak ayahnya
"kenapa? emang bener kan. Alvin emang bego dan gak pantes buat di banggain" sinis Alvin. Ibu dan ayahnya terdiam. Saling bertatapan. Alvin tersenyum sinis dan segera keluar dari kamarnya. Saat sampai di luar,Ia segera menuju pantai. Tempat pelariannya. Shilla yang melihat hal itu segera berpamitan pada kakaknya dan pergi mengikuti Alvin menuju pantai. Sialnya saat di pantai Ia kehilangan jejak. Alvin entah kemana. Shilla menggaruk tengkuknya sendiri. Lelaki itu selalu membuatnya khawatir dan tak lupa sifatnya yang menjengkelkan. Shilla memperhatikan sekelilingnya. Kalau-kalau Alvin masih ada di situ. Namun hasilnya nihil!. Alvin tak ada di situ. Akhirnya Shilla hanya bisa duduk di atas pasir sambil memandang pasang surut air pantai. Ia hanya akan menunggu sampai Alvin datang. Walaupun Ia tak tahu pasti kapan Alvin akan datang.
  pukul 12.00 AM. Sudah hampir dua jam Shilla menunggu Alvin namun tak membuatnya untuk kembali pulang. Ia tetap menunggu Alvin datang menemuinya atau Ia yang menemui Alvin. Seorang lelaki putih dan tinggi dengan berpakaian kemeja dan rambut yang berantakan jalan sempoyongan dengan botol bir di tangannya. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya diatas pasir dan di sampig Shilla yang sedang duduk. Shilla menoleh dan melihat siapa orang yang sedang mabuk itu.
"Alvin!" Alvin menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya dari Shilla.
"ngapain Loe disini!?"
"kamu mabuk lagi?"
"bukan urusan Loe!"ucap Alvin sambil merebahkan tubuhnya diatas pasir. Shilla pergi untuk membeli minum untuk Alvin. Shilla telah kembali dengan membawa dua kaleng minuman untuk menetralisirkan alkohol yang ada di tubuh lelaki itu.
"Kamu ini sudah gila, ya? kenapa Kamu suka sekali mabuk?"tanya Shilla sambil menyerahkan satu kaleng minuman. Alvin lalu bangkit dan mengambil minuman berkaleng tersebut. Setelah Ia meminumnya sedikit, Ia memuntahkannya kembali.
"cih,Loe mau ngeracunin Gue, hah!?"bentak Alvin
"justru minuman yang seperti inilah yang meracunimu!"bentak Shilla sambil mengangkat botol bir berwarna hijau tersebut.
"Gue gak suka!" Alvin menyimpan kaleng minuman tersebut di atas gundukan pasir.
"Kamu ini mau jadi apa sih? kerjanya hanya mabuk-mabukkan saja!"
"urusan Gue dong mau jadi apa, kok Loe yang ribet!? orang tua Gue aja santai!" Shilla yang sudah habis kesabaran mulai berbicara dengan nada yang tinggi.
"Kamu itu laki-laki, Alvin. Laki-laki itu akan jadi tulang punggung keluarga, tapi kalau laki-lakinya kaya Kamu sih susah banget buat di harapinnya"
"aarrggh,Gue pusing kaya gini malah Loe ajakin debat!"ucap Alvin frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"sudahlah cepat minum, ini bisa membantumu untuk menetralisirkan alkohol yang ada di dalam tubuhmu" dengan bermalas-malasan dan di bantu Shilla Alvin meminum minuman tersebut walaupun sebenarnya Ia tak ingin meminumnya namun karena wanita yang ada di hadapannyalah Ia meminum minuman yang di berikan Shilla. Shilla terlalu tegar untuk Alvin. Dia terlalu kuat. Namun sifat itulah yang membuatnya menyukai Shilla. Alvin menyukai Shilla? sejak kapan?. Sejak mereka bertemu yang pertama kali saat di pantai. Padahal sebenarnya yang kedua kali tapi karena pertemuannya yang pertama Dia sedang mabuk jadi Dia tak ingat. Dan Dia menganggap bahwa pertemuannya di pantai saat itu adalah yang pertama. Alvin telah menghabiskan setengah kaleng dari minuman tersebut. Lalu Ia menenggelamkan wajahnya di tekukan lutut sama seperti yang Ia lakukan saat di rumahnya tadi.
"Gue benci hidup Gue, Shill!. Kenapa gak Gue aja yang mati, biar Gue bahagia"
"hey,Kamu tak boleh membenci hidupmu apalagi menyesali yang sudah terjadi. Seharusnya Kamu mensyukurinya. Dan kalaupun Kamu mati Kamu belum tentu bahagia"
"mensyukuri? haha," Alvin tertawa sinis "gak ada yang harus di syukurin,Shill. Dan tadi apa kata Loe,kalaupun Gue mati Gue belum tentu bahagia? itu memang benar. Gue belum tentu bahagia tetapi setidaknya Gue gak denger orang tua Gue berantem dan nangis gara-gara kakak Gue yang udah gak ada" Shilla tertegun dengan penuturan Alvin yang menurutnya sangat menjengkelkan dan berprilaku 'brandalan'. Ternyata memiliki sebuah luka yang teramat dalam di dasar hatinya. Shilla mengusap lembut bahu Alvin.
"tak perlu menyesali yang sudah terjadi,Alvin. Jika memang ini sudah terjadi yasudah biarkan saja. Mungkin ayah dan ibumu masih belum terima kematian kakakmu tapi bukan berarti mereka tak menyayangimu. Dan Kamu tak perlu melampiaskan kemarahanmu dengan mabuk-mabukkan seperti ini" Alvin terdiam sesaat lalu menarik tangan Shilla untuk kembali ke rumah masing-masing.
"hey,Kamu mau membawaku kemana?"
"Loe harus pulang,besok Loe harus bangun sebelum matahari terbit!"
"tapi,besok Aku takkan memotret sunrise"
"Aku takkan menyuruhmu untuk memotret sunrise"
"Kamu,memakai bahasa yang sopan? seperti bukan dirimu saja" Shilla memalingkan wajahnya dari Alvin
"Aku memang selalu memakai bahasa yang sopan" Shilla kembali menoleh kali ini dengan tatapan sebal
"lalu,padaku? Kamu tidak pernah memakai bahasa yang sopan. Hanya kali ini saja"ucap Shilla sambil menunjuk dirinya sendiri
"itu memang mau ku untuk tidak memakai bahasa yang sopan padamu"ucap Alvin dengan pandangan lurus ke depan.
"aw!" Shilla mecubit pinggang Alvin sekerasnya sampai Alvin meringis kesakitan. Kali ini Alvin memandang ke arah Shilla.
"Kamu kenapa mencubit pinggang ku!?"tanya Alvin
"itu memang mau ku untuk mencubit pinggang mu"jawab Shilla sambil menjulurkan lidah dan berlari menjauhi Alvin.
"hey!" Alvin mengejar Shilla yang sudah lumayan jauh dari Alvin. Shilla terkikik sambil terus berlari menjauhi Alvin.

   Beep-beep. Beep-beep. Alarm Shilla telah berbunyi sangat nyaring. Shilla menggeliat lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan semangat. Setelah selesai Ia memakai celana panjang dengan baju tanpa lengan berwarna krem dengan motif bunga-bunga tak lupa kamera yasicha 108 yang Ia gantungkan di lehernya. Suara ed sheeren terdengar nyaring dari handphone Shilla dan di layar telephone tertera nama Alvin. Shilla segera mengangkatnya.
"hallo"sapa Shilla
"Aku sudah ada di bawah, cepatlah turun!"ucap Alvin dengan nada memerintah
"Kamu ini suka sekali memerintah"
"cepatlah! Kamu mau membuatku lumutan karena menunggumu terlalu lama"
"iya, iya, Aku akan turun. Tunggu sebentar!" Shilla menuliskan sebuah surat di kertas berwarna biru langit dan menempelkannya di kulkas karena Goldi dan kedua orang tuanya belum bangun. Ia segera turun menemui Alvin yang sudah menunggunya. Setelah menengok ke arah Alvin Shilla langsung berjalan mendahului Alvin. Alvin melongo. Menatap bingung ke arah Shilla. Shilla berhenti berjalan dan menengok ke arah Alvin.
"cepatlah, nanti kita tidak jadi melihat sunrise di pantai" Alvin menghembuskan nafasnya lalu melangkah mendekati Shilla. Mereka berjalan bersama menuju pantai. Mereka sampai di waktu yang tepat saat matahari akan terbit atau sunset akan terjadi.
"Shilla,Aku akan berjanji satu hal padamu"
"janji apa?"
"Aku tidak akan mabuk-mabukkan lagi ataupun pergi ke club malam"
"oh ya? bagus lah kalau begitu"
"hanya itu reaksimu!?"
"lalu Aku harus bereaksi seperti apa? apa Aku harus bereaksi seperti 'oh ya? bagus lah kalau begitu' seperti itu?"ujar Shilla heboh. Alvin terkikik mendengar ucapan Shilla. lalu berhenti terkikik dan berkata serius.
"Aku mencintaimu" Shilla cukup tersentak mendengar ucapan Alvin. semburat warna merah jambu muncul di kedua pipinya. Hatinya melanglangbuana. Melintasi jutaan moment bahagia. Dan ini adalah moment paling bahagia dari yang bahagia. Merasa tidak percaya dengan yang di ucapkan oleh Alvin. Apakah Ia sedang bermimpi? atau ada yang salah dengan pedegarannya?.
"jadi bagaimana denganmu?"tanya Alvin. Dari wajahnya terlihat Ia sangat berharap Shilla menerima cintanya.
"Aku? Aku juga mencintaimu" Alvin tersenyum begitu pun dengan Shilla.
   Matahari telah terbit dan menghasilkan warna orange yang indah. Sangat indah. Seindah hari ini. hari yang sangat bersejarah. Karena hari ini adalah hari dimana mereka akan memulai kisah cinta mereka yang baru.
                                      TAMAT
**maaf kalau jelek
**jangan lupa comment

Tidak ada komentar:

Posting Komentar