Rabu, 16 Desember 2015

History of bloody painter (Helen Otis) creepypasta part #1

      Ia bernama Helen Otis. Ia berusia 14 tahun. Lingkaran hitam di matanya menunjukkan bahwa ia tak pernah cukup tidur. Dia tidak peduli tentang rambut hitam berantakan, karena ia tidak ingin menempatkan banyak usaha untuk merapikan diri. Karena baginya itu tidak perlu.
    Tempat duduknya di bangku paling belakang, di dekat jendela. Dia selalu duduk di sana. Menggambar dengan tenang. Dia tidak suka bersosialisasi dengan orang, itu menjadikannya sebagai salah satu orang yang kesepian di kelasnya.
    Saat itu ada seseorang yang di dorong ke lantai. Ia bernama Tom. Ia selalu menjadi korban bullying di kelasnya. Bukan karena ia melakukan sesuatu sebelumnya, itu hanya karena ia tidak di sukai oleh orang di sekelilingnya.
     Seorang lelaki bernama Judy mengatakan bahwa ia telah kehilangan sebuah arloji. Helen tidak membantunya. Karena itu bukan urusannya. Tiba-tiba seseorang melihat sesuatu yang berkerlip di tas Helen.
"Apa ini?"kata Ban, saat ia memasukan tangannya ke dalam tas Helen dan mengeluarkan sebuah jam tangan yang di pangkas dengan berlian palsu. Helen sangat terkejut melihat itu, karena ia tidak tahu bagaiman hal itu bisa terjadi.
"Ah! itu jam tangan milikku!"juddy menerima jam tangan miliknya dari Ban. Keduanya menatap Helen.
"Bukan Aku pelakunya"kata Helen yang masih menggambar pada Notes Book miliknya tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.
"ya, benar" Judy menyimpulkan lalu meninggalkan kelas bersama Ban.

     Hari berikutnya, seperti biasa, Helen duduk di meja gambarnya. Ia merasa bahwa suasana tidak merasa benar di sekitarnya. Orang-orang mulai berbisik-bisik tentangnya bahkan beberapa mulai menyebutnya "pencuri". Dia memutuskan untuk tidak menjelaskan karena ia tahu bahwa itu tidak berguna jika di lakukan.
    Helen menjadi target baru bagi orang-orang. Segala sesuatu yang tidak ia perbuat sedang di besar-besarkan. Dia memang tidak menyukainya, tapi ia hanya diam. Lalu Ban datang ke mejanya, menyambar Notes Booknya dengan gambar yang belum selesai di atasnya.
"selalu melakukan hal yang tidak berarti"kata Ban. Ia merobek gambar Helen menjadi beberapa bagian bahkan menjadi potongan-potongan kecil. Ban ingin melihat reaksi Helen. Helen langsung meninju wajah Ban. Mereka mulai pertarungan. Helen tidak terlalu kuat, sehingga ia di pukuli dalam waktu singkat. Siswa lain pergi untuk melihat pertarungan tanpa berhenti itu. Beberapa orang bahkan membantu Ban dan menginjak perut serta wajahnya.
    Tepat setelah bel berbunyi, semua orang berhenti apa yang mereka lakukan dan pergi ke tempatnya masing-masing sebelum guru datang.
"ya Tuhan, Otis (Helen)! apa yang terjadi?" Helen memiliki begitu banyak memar di wajahnya. Semua orang melihat padanya dan memelototinya dengan tatapan membunuh, menunggu jawaban apa yang ia berikan pada guru yang tengah bertanya padanya.
"Saya jatuh dari tangga, Miss"jawaban Helen membuat orang-orang berhenti memelototinya.
       Saat pulang sekolah, orang tuanya juga bertanya hal yang sama pada Helen, dan dia merespon dengan jawaban yang sama. Jaket biru yang ia pakai menutupi semua memar kecuali yang ada di wajahnya. Orang tuanya percaya tanpa ada keraguan. Biasanya ketika orang tua Helen bertanya tentang bagaimana dia di sekolah, dia selalu bilang, dia baik-baik saja. Dia bahkan berbohong tentang membuat banyak teman, hidup bahagia setiap hari. Helen menolak untuk memberi tahu orang tuanya yang sebenarnya, karena ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir tentang dia.

     Beberapa bulan kemudian, ia mulai terbiasa dengan komentar negatif tentang dia. Dan di permalukan telah menjadi peristiwa normal baginya. Dia benar-benar kebal terhadap hal-hal ini sekarang. Yang menjebaknya di tempat pertama? mengapa pelakunya melakukan hal ini? itu tidak penting lagi sekarang.

Helen mendapatkan pesan dari pengguna tidak di kenal di facebook.
"hai! kau di sana?"
Dia menjawab"siapa kau?"
"Aku Tom, teman sekelasmu" Tom tidak pernah berinteraksi dengan dia sebelumnya. Ini sedikit mengejutkannya.
"ada apa?"kata Helen.
"um.. Kau baik-baik saja?"
"Ini bukan  urusanmu"Helen menyimpulkan.
"dengar, Aku tahu perasaanmu sekarang. Kamu berada di situasi sama sepertiku. Aku benar-benar ingin membantumu, tapi aku tidak bisa... Maaf" Helen dan Tom sering mengobrol untuk waktu yang lama di Facebook. Dia bahkan bisa bercanda dengan Tom dan sering menggunakan tanda senyum ":)".

T. B. C......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar