Aku hanya bisa menyukainya dalam diam. Secara rahasia. Hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Memberi secarik kertas dengan ucapan selamat pagi dengan permen karet kesukaannya. Tidak ada yang bisa ku perbuat selain itu.
***
Saat matahari baru saja keluar dari tempat persembunyiannya. Aku sudah siap berangkat ke sekolah. karena itulah kebiasaanku. Berangkat sangat pagi untuk melakukan kegiatan yang biasa kulakukan setiap harinya.
Di kelas....
saat ku pastikan kelas masih sepi Aku segera masuk ke dalam kelas lalu menaruh secarik kertas dengan satu bungkus permen karet kesukaan Rio.
Rio. Nama yang selalu Aku harapkan untuk bersama denganku selamanya. nama yang selalu Aku selipkan di setiap doaku. Nama yang selalu Aku khawatirkan saat terjadi sesuatu dengannya. Nama yang selalu Aku teriaki dan beri semangat saat pertandingan basket tiba. Nama yang selalu Aku banggakan dalam keadaan bagaimanapun. Bagiku Dia selalu menjadi yang terbaik.
Aku segera keluar karena kalau ada yang melihatku rahasiaku sebagai 'secret admirer' Rio bisa terbongkar.
"Aren!"
Aku menoleh,segera tersenyum agar kepanikanku tidak terlalu kelihatan oleh lelaki berwajah oriental itu.
"Alvin!"
Lelaki berwajah oriental itu segera bertanya. Pasti Ia akan bertanya mengapa Aku datang sepagi ini.
"mengapa kau datang sepagi ini?"
ya Tuhan. ternyata yang di pikirkan olehku benar. Aku harus jawab apa. Jika Aku jawab jujur pasti identitasku akan terbongkar.
"hm, Aku harus menaruh cerpen-cerpen adik kelasku di ruang jurnalistik"
Aku minta maaf, Alvin. Aku tidak bermaksud mebohongimu. Jika Aku jujur sia-sia saja usahaku untuk menjadi pengagum rahasia Rio selama ini. Alvin mengangguk lalu menarik tanganku masuk kedalam kelas. Aku duduk di depan meja Alvin. Sembari menunggu murid yang lain datang, kami berdua pun mengobrol berdua di kelas. Terdengar suara hentakan kaki memasuki kelas. Spontan kami berdua menoleh. Rio tersenyum pada Aku dan Alvin.
***
Senyuman itu. Senyuman yang selalu Aku percayai untuk jadi milikku seutuhnya. Senyuman yang hanya di berikan untukku setiap harinya. Pagi, siang, sore ataupun malam senyuman itu hanya di berikan padaku. Bukan untuk orang lain. Aku tahu ini terlalu egois tapi aku tidak ada salahnya bukan untuk egois dalam hal mendapatkan senyuman termanis itu hanya untukku?
***
Istirahat telah tiba. Semua murid langsung berhamburan keluar kelas termasuk Aku dan Alvin. Aku langsung memesankan makanan untukku dan untuk Alvin. Setelah Aku kembali dengan makanan dan minuman di nampan. Rio. Rio duduk di sebelah Alvin, tepat dimana kursi yang biasa ku duduki.
Alvin bertanya padaku.
"eh,Ren bolehkan Rio gabung sama kita?"
Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyuman yang manis tentunya. Aku langsung menyimpan semangkuk mie ayam dan jus jeruk untukku dan untuk Alvin. Lalu duduk di sebelah... Rio. Jantungku berdegup tak karuan. Tapi rasa bahagia ku mulai meredup. Aku di jadikan obat nyamuk oleh mereka berdua -Alvin dan Rio-. Mereka malah asyik mengobrol berdua sampai Aku di lupakan.
"asyik banget, sih, sampai lupa ada temennya satu lagi disini"
mereka berdua terkekeh lalu berkata.
"hehehe.. maaf ya"
"huh.."
".... emang kalian lagi ngomongin apa sih?"lanjutku
Alvin menjawab dengan enteng.
"lomba basket"
Aku langsung bertanya dengan antusias.
"oh ya? kapan?"
lagi-lagi yang menjawab Alvin.
"dua hari lagi"
~ ~
Pertandingan basket telah tiba. Aku telah duduk di kursi penonton untuk melihat Alvin dan Rio tentunya. Rio dkk. Sudah berada di lapangan begitu juga dengan tim lawan yang sudah siap. Pertandingan pun di mulai. Rio memasukan bola ke dalam ring beberapa kali begitu pun dengan Alvin Ia melakukan lay-up yang sangat keren.
***
Aku ingat saat pertama melihat Rio bermain basket di lapangan in-dorr di sekolah. Sangat memukau. Membuat orang yang melihatnya menjadi takjub dengan permainan basketnya. Walau peluh sudah memenuhi wajah dan seragam basketnya ia tetap terlihat keren dan tampan. Saat Ia memasukan bola ke dalam ring di detik terakhir membuat semua orang yang melihatnya semakin berdecak kagum. Ia membuat bangga sekolah dan semua orang yang menyaksikan maupun mendengarnya.
***
Pertandingan telah usai dan sekolah kami kembali mendapat juara pertama dalam bidang olahraga ini. Aku segera menghampiri kedua lelaki yang berbalut pakaian basket yang sudah di peuhi oleh peluh, yakni Alvin dan Rio lalu memberinya handuk dan air mineral. Aku mengacungkan kedua jempolku dan berkata.
"kalian keren!"
Alvin dan Rio pun tersenyum lalu menjawab
"thanks,Ren"
"thanks Aren"
Alvin mengacak pelan rambutku sampai membuat rambutku sedikit agak berantakan. Aku menghembuskan nafas, pura-pura kesal dan merapihkannya kembali.
Untuk pertama kalinya Aku pulang bersama Rio. Di perjalanan hanya terdengar suara hentakan kaki saja. Ya, kami pulang dengan berjalan kaki. karena rumah kami tidak begitu jauh dari sekolah. Setelah beberapa saat bungkam, akhirnya salah satu dari kami ada yang membuka suara. Yaitu, Rio.
"eh, beberapa hari ini Aku sering dapet surat sama permen karet, kira-kira kalian tau gak siapa yang kasih?"
DEG. Aku terdiam. Terdiam mendengar ucapan Rio. Tapi terus berjalan mengikuti langkah kaki kedua lelaki ini. Dalam hati Aku berdoa semoga rahasiaku sebagai pengagum rahasia Rio tidak terbongkar.
Alvin mengangkat bahunya "emang sejak kapan orang itu kasih surat sama permen karet ke kamu?"tanya Alvin tanpa memandang wajah Rio. Rio menjawab.
"dua minggu yang lalu" Alvin manggut-manggut.
Tak terasa kami telah sampai di depan rumah Rio. Rio langsung masuk ke dalam rumahnya setelah berpamitan pada kami dan setelah mendengar jawaban kami yang menolak untuk mampir sebentar ke rumah Rio. Alvin kembali mempertanyakan tentang seseorang yang memberi secarik kertas dan permen karet pada Rio. Aku hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu hanya berpura-pura tidak tahu.
~ ~
Mentari bersinar terang. Kicauan burung telah terdengar merdu. Seperti biasa Aku sudah duduk manis di jok mobil belakang dan siap di antar ke sekolah oleh pak Septian. Aku melihat sekolah dari balik kaca mobil. Masih terlihat cukup sepi. Aku turun dari mobil dan segera ke kelas sebelum ada yang datang yang mendahuluiku.
Dengan lagkah yang cukup cepat Aku langsung berada di depan meja Rio dan menaruh secarik kertas dan permen karet. Aku harap tidak ada orang yang melihatnya. Aku keluar kelas dengan langkah seperti saat Aku masuk ke dalam kelas. Saat di luar kelas aku melihat Alvin sedang berdiri dan asyik berkutat dengan ponselnya. Aku terkejut kalau-kalau Alvin melihatku sedang menaruh secarik kertas dan permen karet di meja Rio. Aku berkata dengan gugup.
"Alvin,sejak kapan kamu ada di sini?"
"baru saja"
Fuh, lega. Ternyata Alvin baru saja datang dan tidak melihatku sedang menaruh secarik kertas itu dan permen karet. Lalu Rio datang dengan seorang wanita berambut panjang dan berwajah tirus. Tunggu, sepertinya wanita itu tidak asing bagiku. Hm, siapa ya?.. oh ya dia Alyssa. Teman sekelasku juga tapi Aku tidak begitu akrab dengannya. Tapi kenapa Dia bersama Rio. Lalu Alvin menggoda Alyssa.
"berduaan aja, nih ceritanya?"
semburat warna merah merona terlihat di pipi Alyssa. Rio langsung menjawab.
"apaan sih, yuk ah ke kelas, Ssa" Rio langsung menarik tangan Alyssa menuju kelas. Aku dan Alvin juga masuk ke dalam kelas.
"tuh kan, ssa apa Aku bilang? ada yang suka ngirimin permen karet sama kertas ke meja Aku" cerca Rio. Alyssa langsung mengusap bahu Rio dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tunggu, tadi Aku bilang apa? penuh kasih sayang ? memangya Rio dan Alyssa ada hubungan apa, pakai ada acara penuh kasih sayang segala?.
"sabar ya, Yo mungkin Dia emang suka sama Kamu dari dulu" ucap Alyssa
"tapi ini setiap hari, Ssa Aku gak suka aja"
A...ap..apa? Rio gak suka? berarti Rio gak suka sama barang pemberian Aku dan termasuk Aku? nggak, Aku harus optimis, Rio emang gak suka sama barang pemberian Aku tapi pasti Rio suka sama Aku.
~ ~
Waktu istirahat telah tiba. Aku, Alvin, Rio segera ke kantin tapi sekarang di tambah satu orang yaitu, Alyssa. kata Rio, Dia akan memberi tahu sesuatu pada kami. Entahlah itu apa. Tapi kata Dia yang jelas itu kabar gembira.
"mm, guys Aku mau kasih tau, kalau Aku dan Alyssa. kita..." tunggu,kita? apa maksudnya? semoga ini kabar gembira untukku dan hatiku.
"udah resmi jadian tadi malam"
DAR!!. Seperti ada suara petir dalam hatiku. Aku tidak pernah bisa menyangka bahwa Aku akan mendengar kabar yang seperi ini. Aku tidak menyangka bahwa Rio dan Alyssa akan jadian. Aku langsung lari dari situ. tidak peduli apa yang mereka katakan dan pikirkan. Aku berlari menuju tempat yang jauh dari tempat di mana kesedihan itu berasal.
***
Kenyataan memang tak selalu sama seperti yang di harapkan. Kadang kenyataan lebih pahit dari harapan dan terkadang lebih kejam dari harapan. Harapan itu seketika sirna begitu saja saat kata yang tidak di inginkan itu terucap manis dari bibirnya. Kini tak ada lagi yang bisa di harapkan dari semua itu. Yang tersisa hanyalah tangisan kecewa. Yang ada hanyalah kekecewaan, kepedihan dan kesakitan yang mendalam. Kini aku tahu bahwa dia tidak akan menjadi milikku.
***
terasa ada tangan besar dan kokoh yang menyentuh bahuku. Aku menoleh dengan wajah yang di banjiri oleh air mata. Orang itu duduk di sampingku.
"Aku tahu, Kamu sakit dan kecewa, tapi biarkan Dia bahagia, Ren.. karena Kamu pun akan bahagia"
Aku menatap nanar ke arah lelaki yang memiliki wajah oriental. Sungguh Aku tidak mengerti apa yang Ia maksud.
"bahagia? bagaimana Aku bisa bahagia, dua tahun Aku menunggu cinta Rio, Vin, tapi Dia malah pacaran sama Alyssa"
lelaki berwajah oriental ini yakni adalah Alvin langsung mengusap air mataku.
"udah, Ren biarin Rio bahagia, ada seseorang yang lebih cinta ke Kamu melebihi cinta Kamu ke Rio. Dia udah nunggu Kamu selama empat tahun ini"
sungguh, Aku tidak menyangka dengan perkataan Alvin. Yang di katakan Alvin itu benar adanya atau hanya semata-mata untuk menghiburku saja.
"jangan buat Aku berharap lebih tinggi lagi, Vin aku takut jatuh lagi dan sakit lagi"ucapku lirih. Aku kembali menitikan air mata. Dan Alvin kembali menghapus air mataku.
"jika Kamu akan jatuh dan sakit lagi Aku akan jatuh dan sakit bersamamu karena Aku yang memberikan harapan itu dan akan membuat harapan itu menjadi kenyataan..." Alvin menjawab dengan lembut. Tidak dingin seperti biasanya.
"dan Aku yang menunggumu selama empat tahun ini"
Aku menatap Alvin cukup lama, bingung harus menanggapi apa. Tangan Alvin kembali bergerak menghapus air mataku.
"Kamu hancur? Aku juga hancur. Bahkan lebih hancur, Ren. Hancur, waktu Aku liat orang yang Aku sayang nangisin orang lain"
Aku menangis lagi. Dan saat ini aku mencerna perkataan Alvin, mencoba mengerti. Alvin menarikku dalam rengkuhannya. Membuatku cukup tenang.
"A..l..v..i..n..."
"Aku nggak mau Kamu nangis gara-gara Rio, Ren" Aku mengangguk lalu berkata
"ajari Aku untuk mencintaimu, Alvin"
***
Aku terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kebahagiaan dalam sisi yang lain. Karena selama ini yang Aku tahu, kebahagiaan itu adalah Dia. Terkadang Tuhan membanting Kita jatuh untuk menyadarkan Kita bahwa apa yang Kita pertahankan selama ini salah. Aku sayang Dia, tapi bagaimana denganya? dan Aku pun sadar bahwa titik puncak tertinggi cinta itu adalah merelakan kepergiannya.
***
"selamat ya, Ren, Vin longlast deh buat kalian berdua"
"Alvin, longlast ya sama Arennya"
Aku dan Alvin tersenyum mendengar ucapan Rio dan Alyssa. Rio lalu berkata.
"by the way, thanks ya, Ren udah kasih permen karet setiap harinya ke Aku"
Aku sedikit terkejut dan bertanya-tanya dari mana Rio tahu itu semua. Apa Alvin memberi tahu semuanya pada Rio.
"kaget kan? Aku tahu dari Alyssa Dia pernah liat Kamu naruh secarik kertas sama permen karet di meja Aku"
Aku tersenyum lalu mengangguk. Alyssa pun tersenyum padaku.
Kami tertawa bersama dengan seragam kami yang di penuhi oleh pilox warna-warni. Kami semua sudah lulus dan juga kami berencana untuk masuk ke universitas yang sama di kota kami. Alvin merangkulku dengan mesra dan Rio merangkul Alyssa dengan mesra juga.
THE END
**sorry kalau jelek**maklum masih belajar :)
**jangan lupa comment :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar