Rabu, 16 Desember 2015

History of bloody painter (Helen Otis) creepypasta part #1

      Ia bernama Helen Otis. Ia berusia 14 tahun. Lingkaran hitam di matanya menunjukkan bahwa ia tak pernah cukup tidur. Dia tidak peduli tentang rambut hitam berantakan, karena ia tidak ingin menempatkan banyak usaha untuk merapikan diri. Karena baginya itu tidak perlu.
    Tempat duduknya di bangku paling belakang, di dekat jendela. Dia selalu duduk di sana. Menggambar dengan tenang. Dia tidak suka bersosialisasi dengan orang, itu menjadikannya sebagai salah satu orang yang kesepian di kelasnya.
    Saat itu ada seseorang yang di dorong ke lantai. Ia bernama Tom. Ia selalu menjadi korban bullying di kelasnya. Bukan karena ia melakukan sesuatu sebelumnya, itu hanya karena ia tidak di sukai oleh orang di sekelilingnya.
     Seorang lelaki bernama Judy mengatakan bahwa ia telah kehilangan sebuah arloji. Helen tidak membantunya. Karena itu bukan urusannya. Tiba-tiba seseorang melihat sesuatu yang berkerlip di tas Helen.
"Apa ini?"kata Ban, saat ia memasukan tangannya ke dalam tas Helen dan mengeluarkan sebuah jam tangan yang di pangkas dengan berlian palsu. Helen sangat terkejut melihat itu, karena ia tidak tahu bagaiman hal itu bisa terjadi.
"Ah! itu jam tangan milikku!"juddy menerima jam tangan miliknya dari Ban. Keduanya menatap Helen.
"Bukan Aku pelakunya"kata Helen yang masih menggambar pada Notes Book miliknya tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun.
"ya, benar" Judy menyimpulkan lalu meninggalkan kelas bersama Ban.

     Hari berikutnya, seperti biasa, Helen duduk di meja gambarnya. Ia merasa bahwa suasana tidak merasa benar di sekitarnya. Orang-orang mulai berbisik-bisik tentangnya bahkan beberapa mulai menyebutnya "pencuri". Dia memutuskan untuk tidak menjelaskan karena ia tahu bahwa itu tidak berguna jika di lakukan.
    Helen menjadi target baru bagi orang-orang. Segala sesuatu yang tidak ia perbuat sedang di besar-besarkan. Dia memang tidak menyukainya, tapi ia hanya diam. Lalu Ban datang ke mejanya, menyambar Notes Booknya dengan gambar yang belum selesai di atasnya.
"selalu melakukan hal yang tidak berarti"kata Ban. Ia merobek gambar Helen menjadi beberapa bagian bahkan menjadi potongan-potongan kecil. Ban ingin melihat reaksi Helen. Helen langsung meninju wajah Ban. Mereka mulai pertarungan. Helen tidak terlalu kuat, sehingga ia di pukuli dalam waktu singkat. Siswa lain pergi untuk melihat pertarungan tanpa berhenti itu. Beberapa orang bahkan membantu Ban dan menginjak perut serta wajahnya.
    Tepat setelah bel berbunyi, semua orang berhenti apa yang mereka lakukan dan pergi ke tempatnya masing-masing sebelum guru datang.
"ya Tuhan, Otis (Helen)! apa yang terjadi?" Helen memiliki begitu banyak memar di wajahnya. Semua orang melihat padanya dan memelototinya dengan tatapan membunuh, menunggu jawaban apa yang ia berikan pada guru yang tengah bertanya padanya.
"Saya jatuh dari tangga, Miss"jawaban Helen membuat orang-orang berhenti memelototinya.
       Saat pulang sekolah, orang tuanya juga bertanya hal yang sama pada Helen, dan dia merespon dengan jawaban yang sama. Jaket biru yang ia pakai menutupi semua memar kecuali yang ada di wajahnya. Orang tuanya percaya tanpa ada keraguan. Biasanya ketika orang tua Helen bertanya tentang bagaimana dia di sekolah, dia selalu bilang, dia baik-baik saja. Dia bahkan berbohong tentang membuat banyak teman, hidup bahagia setiap hari. Helen menolak untuk memberi tahu orang tuanya yang sebenarnya, karena ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir tentang dia.

     Beberapa bulan kemudian, ia mulai terbiasa dengan komentar negatif tentang dia. Dan di permalukan telah menjadi peristiwa normal baginya. Dia benar-benar kebal terhadap hal-hal ini sekarang. Yang menjebaknya di tempat pertama? mengapa pelakunya melakukan hal ini? itu tidak penting lagi sekarang.

Helen mendapatkan pesan dari pengguna tidak di kenal di facebook.
"hai! kau di sana?"
Dia menjawab"siapa kau?"
"Aku Tom, teman sekelasmu" Tom tidak pernah berinteraksi dengan dia sebelumnya. Ini sedikit mengejutkannya.
"ada apa?"kata Helen.
"um.. Kau baik-baik saja?"
"Ini bukan  urusanmu"Helen menyimpulkan.
"dengar, Aku tahu perasaanmu sekarang. Kamu berada di situasi sama sepertiku. Aku benar-benar ingin membantumu, tapi aku tidak bisa... Maaf" Helen dan Tom sering mengobrol untuk waktu yang lama di Facebook. Dia bahkan bisa bercanda dengan Tom dan sering menggunakan tanda senyum ":)".

T. B. C......

Minggu, 13 Desember 2015

sunset

                   cinta itu indah,seindah warna orange
              saat matahari tenggelam di ufuk timur

    Sang surya telah kembali ke tempat peristirahatannya. Warna orange yang memancar di ujung sana mulai meredup. Seorang Gadis tengah duduk di bibir pantai dan memperhatikan terjadinya sunset di sana. Sangat indah. Berkali-kali Ia memotret sunset tersebut dengan kameranya. Setelah hampir setengah jam Ia duduk dan menyaksikan sunset akhirnya Ia beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali ke rumahnya. Karena Ia harus cepat kembali ke rumahnya sebelum makan malam. Saat sampai di dalam rumahnya seorang lelaki berkacamata dengan suara yang berat bertanya padanya.
"kali ini objek apalagi yang Kamu potret?"
"sunset"jawabnya pendek. Lelaki itu mengangguk. Gadis itu segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya dan mengganti baju dengan piyama. Setelah itu Ia turun ke bawah untuk makan malam bersama keluarganya. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu. Tak ada yang membuka suara. Setelah selesai makan barulah ibu dari Gadis itu membuka suara.
"Shilla" Shilla -yakni nama Gadis itu- mendongkak.
"ya, bu?"
"ibu kemarin baru saja membuat kue, tolong Kamu beri ke tetangga kita yang baru, ya. Rumahya ada di sebelah rumah kita" Shilla mengangguk. Ibu dari Gadis beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kue buatan beliau. Lalu beliau kembali dengan membawa kotak berukuran sedang yang berisikan kue kering. Beliau menyerahkan kotak berukuran sedang itu pada Shilla.
"ini tolong berikan pada bu Rahmi"
"baik bu" Shilla mengambil kotak tersebut dan segera memakai jaketnya dan pergi keluar, menuju rumah yang di maksudkan ibunya. Saat sampai di depan rumah tersebut Shilla langsung mengetuk pintu rumah tersebut. Lalu seorang lelaki bertubuh tinggi dan berkulit putih membukakan pintu tersebut. Tangannya yang putih memegang botol bir.
"ada apa?"
"i.. I.. Ini ada kue kering dari ibuku untuk bu Rahmi"jawab Shilla gugup sambil menyerahkan kotak yang berukuran sedang yang berisikan kue kering buatan ibunya Shilla. Lelaki itu mengambil kasar kotak yang berisikan kue kering.
"oh. Thanks. Nyokap Gue belum pulang, nanti kalau udah pulang Gue kasih tahu"
"iya sama-sama, tolong.." lelaki itu langsung menutup pintu rumahnya secara kasar sebelum Shilla menyelesaikan ucapannya.
Shilla mendecak. "tidak sopan sekali!"
"kalau Loe gak mau celaka mending Loe pulang!"ucap lelaki itu yang sudah berada di dalam rumahnya. Lagi-lagi Shilla mendecak dan kembali ke rumahnya. Saat sampai di dalam rumah ia mendesah berkali-kali. Menyebalkan!. Berkali-kali juga Ia mengumpat dalam hati. Lelaki itu sangat tidak sopan. Apalagi nafasnya, bau alkohol. Lelaki itu seperti sudah minum minuman beralkohol sampai mabuk. Lelaki yang tak punya sopan santun. Shilla merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dan perlahan matanya mulai menutup. Dalam hitungan detik Shilla sudah terlelap dalam tidurnya. Terbuai dalam mimpinya yang indah.
    Beep-beep. Beep-beep. Suara alarm dari jam weeker Shilla telah berbunyi sangat nyaring. Shilla mematikan jam weekernya dan menggeliat lalu berjalan gontai menuju kamar mandi. Setelah selesai Shilla langsung memakai kaos polos berwarna pink dengan celana pendek selutut dan mengambil kardigartnya yang berwarna pink. Tak lupa kamera yasicha 108 yang selalu Ia gantungkan di lehernya. Ia memakai sepatu flath berwarna pink sepadan dengan kardigartnya. Ia telah sampai di bibir pantai. Ia bersama dengan kameranya bersiap untuk memotret matahari terbit dengan warna orange yang indah. Klik!. Shilla kembali memotret objek yang sama dengan arah yang berbeda. Shilla melihat-lihat hasil potretannya sambil berjalan, otomatis Ia tak memperhatikan setiap jalan yang Ia lewati. Bruk!. tubuhnya bertabrakan dengan tubuh seseorang, alhasil Shilla terjatuh. Namun bukan itu yang membuat Shilla marah. Kamera yang sedang Ia pegang terjatuh dan mengenai batu yang berujung tajam samapai mengakibatkan lensanya pecah. Fotonya memang masih bisa terlihat namun Ia tak dapat memotret lagi karena lensanya pecah. Shilla menitikan air mata. Kamera ini adalah hadiah ulang tahun dari kakaknya sebelum kakaknya pergi ke Austria dan sekarang pesawatnya menghilang serta hampir seluruh korban belum di temukan termasuk kakaknya yang sudah memberinya kamera analog tersebut.
"kok Loe nangis sih?"tanya lelaki berkulit putih yang berdiri tepat di depan Shilla. Shilla langsung menghapus air matanya lalu bangkit dan pergi dari tempat itu. Namun lelaki itu segera menahan langkah Shilla.
"Loe belum jawab pertanyaan Gue" Shilla memicingkan matanya dan mendelik sebal. Ia melihat wajah lelaki itu sekilas, dan Ia teringat bahwa lelaki itu adalah lelaki yang Ia temui saat Ia memberikan kue kering pada bu Rahmi alias ibu dari lelaki tersebut dan Lelaki yang sangat menyebalkan.
"Aku tak ingin celaka dan Aku ingin pulang" Shilla berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Lelaki tersebut.
"tunggu! siapa yang akan nyelakain Loe?" Shilla terdiam lalu Ia berfikir bahwa lelaki yang ada di hadapannya benar-benar sedang terpengaruh alkohol tadi malam. Shilla melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki yang ada di hadapannya dan.. Berhasil!. Ia langsung pergi dan menjauh dari tempat itu. Saat Ia sudah jauh dari tempat lelaki itu berada, Ia duduk diatas gundukan pasir dan melihat pasang surutnya air di pantai. Ia kembali mengutak-atik kameranya yang rusak. Ia segera mengambil kartu memori yang ada di dalam kamera sebelum kartu itu ikut rusak. Air matanya kembali menetes. Pasalnya ini adalah kamera yang sangat berharga bagi Shilla. Jika Ia rindu pada kakaknya yang sudah lama di kabarkan menghilang itu Ia bisa melihat foto-foto Dia bersama kakaknya sebelum kakaknya di kabarkan menghilang dan sekarang Ia tak bisa melihat foto-foto itu lagi bahkan tak bisa memotret dengan kamera itu. Perasaan marah, sedih dan kesal berkecamuk di dadanya karena satu orang lelaki yang tidak jelas asal-usulnya dan selalu membuatnya jengkel. Dengan perasaan seperti itu Ia kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya Ia terus memandangi kameranya yang sudah rusak. Air matanya yang sedikit demi sedikit menetes Ia usap agar orang tak melihatnya yang sedang menangis. Saat Ia sampai di rumah seperti biasa lelaki berkacamata dengan suara berat bertanya padanya. Dengan pertanyaan yang sama. Namun kali ini Shilla langsung memeluk tubuh lelaki itu dengan erat dan menangis terisak. Lelaki itu mencoba menenangkan Shilla yang menangis sampai terisak-isak sambil memegang kamera yang selalu Ia bawa.
"kak Goldi"ucap Shilla pelan di sela isakan tangisnya
"iya, kenapa Shilla?"
"kakak tahu, kan kamera yang selalu Aku bawa kemana-mana?" kakaknya yang bernama Goldi itu seraya mengangguk.
"yang dari kak Ray" Goldi kembali mengangguk. Shilla terlihat takut kalau-kalau Goldi malah memarahinya karena kamera yang di beri Ray untuknya telah rusak walaupun tidak disengaja.
"rusak"
"rusak apanya?" prediksi tentang Goldi yang akan memarahinya ternyata salah besar. Goldi malah menjawabnya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap adik semata wayangnya.
"tadi pas di pantai Shilla gak sengaja tabrakan sama orang terus kameranya jatuh dan lensanya... pecah" Goldi tersenyum lalu mengacak-acak rambut adiknya dengan pelan.
"yaudah kita ganti aja lensanya" Goldi kembali terseyum begitupun dengan Shilla,Ia tersenyum sangat antusias. Ia masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya memeluk kembali Goldi dan berterima kasih. Shilla berdiri di balkon kamarnya melihat pemandangan yang langsung ke arah pantai yang indah. Udaranya sangat sejuk. Menyapu lembut kedua pipi chubby Shilla. Jangan salah karena pipi chubbynya Shilla terlihat sangat manis. Dari situ Ia bisa melihat seseorang dengan asyiknya bermain dengan ombak menggunakan papan surfing. Sebuah pesawat kertas mendarat tepat di pelipis Shilla. Shilla mengambil pesawat kertas itu. 'Gue Alvin,dan Loe?'. Shilla mengerutkan keningnya. Siapa orang yang tak mempunyai hal lain selain membuat orang jengkel. Shilla terdiam. Kemudian Ia ingat seseorang. Lelaki chinesse yang kemarin dan tadi Ia temui. Lalu Ia melirik ke sebelah kanan, lelaki itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Shilla. Dan benar saja Lelaki chinesse itulah yang mengirim tulisan lewat pesawat kertas yang kini ada di tangan Shilla. Kemudian Shilla membalas surat itu dengan pesawat kertas juga. 'Jadi namamu Alvin. Nama yang bagus. Namun tidak cocok dengan tingkahmu yang menjengkelkan'. Segera Ia menerbangkan pesawat kertas itu menuju balkon kamar yang ada di sebelah balkon kamarnya. Alvin menaikan sebelah alisnya setelah membaca isi surat yang ada di pesawat kertas. kemudian tersenyum. Ia segera mengambil pulpen dari dalam sakunya dan menuliskan sesuatu di pesawat kertas yang lain. Setelah selesai menulis Ia kembali menerbangkan pesawat kertas itu pada Shilla. 'Jadi tingkah Gue buat Loe jengkel? ok deh,Gue minta maaf. Tapi bolehkan Gue tahu nama Loe?'. Shilla tersenyum saat membaca balasan dari Alvin. Dan pandangannya yang semula pada seorang lelaki mancanegara yang sedang bermain papan surfing pandangannya kini menjadi pada Alvin. 'Yaudah gak pa-pa,kok. Aku Shilla'.

    Suatu kebetulan yang tak pernah di ketahui oleh Shilla akan membekas dan begitu berarti. Awalnya hanya perkenalan singkat,lalu mereka berkirim pesan dan mereka menjadi cukup dekat. Ada perasaan aneh yang Shilla rasakan saat Ia bersama dengan Alvin. Apakah ini sebuah tanda bahwa Shilla mencintai Alvin?. Ia tak ingin memusingkan hal itu,karena Ia juga takut salah persepsi tentang perasaannya terhadap lelaki chinesse tersebut.
"Shilla!"panggil Goldi yang berada di bawah dan sudah siap untuk mengantar Shilla mengganti lensa kameranya.
"iya,kak" Shilla menyahut dan segera turun ke bawah untuk menemui Goldi. Mereka segera masuk kedalam mobil dan berangkat menuju tempat yang mereka tuju. Setelah sampai di tempat yang mereka tuju,Shilla langsung masuk ke dalam tempat tersebut sambil menarik tangan Goldi untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Goldi tersenyum dan mengacak pelan rambut halus Shilla. Shilla langsung melihatkan dimana tempat rusaknya kamera tersebut. Orang tersebut mengagguk dan mengatakan bahwa kameranya rusak tak begitu parah dan bisa di perbaiki. Shilla hanya akan menunggu satu jam saja. Membosankan,gerutu Shilla dalam hati. Shilla mendengarkan musik dari ipodnya sedangkan Goldi sedang menelphone kekasihnya yang berada di luar kota. Satu jam sudah Shilla menunggu kamera kembali di perbaiki,dan sudah selesai. Kameranya sudah selesai di perbaiki. Shilla segera menemui orang yang telah memperbaiki kameranya. dan mengucapkan terimakasih tak lupa ia membayar dengan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"finally!"seru Shilla kegirangan. Ia segera menghampiri kakaknya yang masih berbicara lewat telephone seluler dengan kekasihnya dan memperlihatkan kamera yang baru saja di perbaiki. Goldi tersenyum dan menutup telephonenya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah mereka. saat di tengah perjalanan menuju rumah mereka Shilla menyuruh Goldi untuk berhenti. Shilla akan pergi kepantai dan kembali memotret di pantai tersebut. Goldi menurut dan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Shilla berjalan kegirangan menuju pantai dan memotret objek. Seperti seseorang yang sedang bermain layangan,berjemur atau bermain ombak dengan papan seluncur.

Saat ku tenggelam dalam sendu
waktu pun enggan untuk berlalu
ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
entah untuk siapapun itu

semakin ku ingat masa lalu
semakin hatiku tak menentu
tetapi satu sinar terangi jiwaku
saat ku melihat senyummu

dan kau hadir merubah
segalanya menjadi lebih indah
kau bawa cintaku setinggi angkasa
membuatku merasa sempurna


Adera-lebih indah

tiba-tiba saja ponsel Shilla bergetar. Shilla langsung mengambil ponselnya di dalam saku. Satu  panggilan dari Alvin. Shilla segera menjawab panggilan tersebut.
"ya,hallo"
"hai, Loe sibuk gak hari ini?"
"nggak sih, cuman Aku lagi motret pemandangan di pantai"
"oh, bisa nengok ke belakang?" Shilla menoleh dan mendapati seorang lelaki putih yang berdiri tepat di belakangnya dengan senyumannya yang khas dan lambaian tangan yang seperti biasanya. Shilla segera mematikan sambungan telephonenya. Alvin berjalan ke arah Shilla. Shilla tak menghiraukannya Ia malah asyik berkutat dengan kameranya. Sesaat menyadari bahwa Alvin telah berdiri di sampingnya kedua tangannya di masukan ke dalam saku celananya. Dan Ia memakai topi berwarna hitam yang di pakai terbalik. 'tampan' gumamnya dalam hati. Tanpa Ia sadari Ia terus memperhatikan wajah lelaki itu.
"kenapa? Gue ganteng ya?" Shilla tersadar dari lamunannya. Padahal baru saja Ia memuji Lelaki itu tetapi Lelaki di hadapannya ini selalu membuatnya jengkel.
"ge-er banget sih,vin. Siapa coba yang bilang kamu ganteng?"
"banyak,Loe aja yang gak tahu"
"oh ya? siapa aja?"
"tak terhingga"
"lebay kamu,Vin" Alvin terkekeh. Mereka menghabiskan waktu di pagi hari ini dengan tertawa bersama di bibir pantai. Sambil menikmati desau angin yang berhembus. Shilla memperhatikan wajah oriental Alvin. Tampan. Kata itulah yang selalu tersirat di benak Shilla saat melihat wajah Alvin. Ia tak pernah tahu perasaannya terhadap Alvin. Apakah Ia hanya sekedar suka saja atau malah sudah melewati batas suka antara lain: cinta?. Shilla menundukan wajahnya dan memikirkan perasaan apa yang Ia miliki kepada lelaki tampan namun menjengkelkan ini.

  Shilla menghempaskan nafasnya. Sudah satu jam nomor Alvin tak dapat di hubungi. Pasalnya Shilla takut terjadi apa-apa pada Alvin apalagi Dia sering meminum minuman beralkohol dan juga Shilla takut bahwa Alvin membawa kendaraan sendiri dan setelah itu terjadi sesuatu dengannya. Shilla menutup wajahnya dengan kedua tanganya seraya dapat menghilangkan pikiran negatifnya ini dari kepalanya. Shilla berjalan menuju balkon kamarnya. Menoleh ke sebelah kanan dan tak ada lelaki menjengkelkan itu di sana dan rumahnya tampak kosong.
  Shilla merasa ada yang aneh pada perasaannya dan merasa ada sesuatu yang bergejolak di hatinya saat dekat dengan Lelaki itu. Perasaan itu tak bisa Ia hindari. Bahkan terlalu sulit untuk di hindari. Semuanya terjadi secara tidak sengaja. Sesuatu yang awalnya biasa menjadi begitu berarti. Kekhawatiran itu selalu menyelimuti Shilla saat lelaki itu tak berkabar dan tidak ada di balkon kamarnya. Saat Shilla akan masuk ke kamarnya tiba-tiba terdengar suara kaca yang pecah. Shilla mundur kembali dan mendengar bahwa sumber suara ribut itu dari rumah seorang lelaki yang sedang Ia fikirkan.
~ ~
  Pertengkaran orang tuanya selalu terjadi setiap saat dan Alvin selalu terbebani dengan pertengkaran ayah ibunya itu. Dia selalu di sudutkan orang tuanya. Ia selalu merasa bahwa Ialah faktor utama penyebab orang tuanya bertengkar. Jika Alvin di perbolehkan untuk memilih,Ia akan memilih untuk dilahirkan dan di besarkan oleh kedua orang tua yang lain atau bahkan Ia akan memilih untuk tidak di lahirkan sama sekali di dunia ini. Pertengkaran ayah dan ibunya membuatnya semakin berfikir bahwa untuk apa Dia di lahirkan di keluarga ini. Emosinya sudah memuncak,akhirnya Ia meluapkan emosinya dengan menonjok kaca besar yag ada di kamarnya. Darah mengalir dari punggung tangannya. Namun cukup membuat orang tuanya berhenti bertengkar dan masuk ke dalam kamar Alvin. Mereka sangat terkejut saat melihat Alvin yang sedang duduk di sudut tembok kamarnya dan menenggelamkan wajahnya dalam tekukan lutut. Darah masih saja terus mengalir dari punggung tangannya sampai-sampai membanjiri punggung tangannya.
"Alvin,Kamu kenapa?"tanya ibunya lembut
"kalian yang kenapa!? bukan Alvin. Apa kalian gak capek terus-terussan bertengkar setiap malam!? apa kalian gak malu di denger sama orang-orang!? Alvin malu mah,pah!" jawab Alvin penuh penekanan. Darah yang keluar dari punggung tangannya tidak sakit sama sekali karena yang lebih sakit adalah hatinya. Setiap malam harus mendengar ayah dan ibunya bertengkar.
Alvin melanjutkan ucapannya "kalian tahu kenapa Alvin kaya gini? itu semua karena kalian? kalian selalu memikirkan kakak yang jelas-jelas udah tenang di surga. kalian selalu meributkan kakak yang punya IQ tinggi sampai lupa kalau kalian punya satu anak lagi yang bego" ibunya tertegun mendengar penuturan Alvin.
"Alvin!" bentak ayahnya
"kenapa? emang bener kan. Alvin emang bego dan gak pantes buat di banggain" sinis Alvin. Ibu dan ayahnya terdiam. Saling bertatapan. Alvin tersenyum sinis dan segera keluar dari kamarnya. Saat sampai di luar,Ia segera menuju pantai. Tempat pelariannya. Shilla yang melihat hal itu segera berpamitan pada kakaknya dan pergi mengikuti Alvin menuju pantai. Sialnya saat di pantai Ia kehilangan jejak. Alvin entah kemana. Shilla menggaruk tengkuknya sendiri. Lelaki itu selalu membuatnya khawatir dan tak lupa sifatnya yang menjengkelkan. Shilla memperhatikan sekelilingnya. Kalau-kalau Alvin masih ada di situ. Namun hasilnya nihil!. Alvin tak ada di situ. Akhirnya Shilla hanya bisa duduk di atas pasir sambil memandang pasang surut air pantai. Ia hanya akan menunggu sampai Alvin datang. Walaupun Ia tak tahu pasti kapan Alvin akan datang.
  pukul 12.00 AM. Sudah hampir dua jam Shilla menunggu Alvin namun tak membuatnya untuk kembali pulang. Ia tetap menunggu Alvin datang menemuinya atau Ia yang menemui Alvin. Seorang lelaki putih dan tinggi dengan berpakaian kemeja dan rambut yang berantakan jalan sempoyongan dengan botol bir di tangannya. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya diatas pasir dan di sampig Shilla yang sedang duduk. Shilla menoleh dan melihat siapa orang yang sedang mabuk itu.
"Alvin!" Alvin menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya dari Shilla.
"ngapain Loe disini!?"
"kamu mabuk lagi?"
"bukan urusan Loe!"ucap Alvin sambil merebahkan tubuhnya diatas pasir. Shilla pergi untuk membeli minum untuk Alvin. Shilla telah kembali dengan membawa dua kaleng minuman untuk menetralisirkan alkohol yang ada di tubuh lelaki itu.
"Kamu ini sudah gila, ya? kenapa Kamu suka sekali mabuk?"tanya Shilla sambil menyerahkan satu kaleng minuman. Alvin lalu bangkit dan mengambil minuman berkaleng tersebut. Setelah Ia meminumnya sedikit, Ia memuntahkannya kembali.
"cih,Loe mau ngeracunin Gue, hah!?"bentak Alvin
"justru minuman yang seperti inilah yang meracunimu!"bentak Shilla sambil mengangkat botol bir berwarna hijau tersebut.
"Gue gak suka!" Alvin menyimpan kaleng minuman tersebut di atas gundukan pasir.
"Kamu ini mau jadi apa sih? kerjanya hanya mabuk-mabukkan saja!"
"urusan Gue dong mau jadi apa, kok Loe yang ribet!? orang tua Gue aja santai!" Shilla yang sudah habis kesabaran mulai berbicara dengan nada yang tinggi.
"Kamu itu laki-laki, Alvin. Laki-laki itu akan jadi tulang punggung keluarga, tapi kalau laki-lakinya kaya Kamu sih susah banget buat di harapinnya"
"aarrggh,Gue pusing kaya gini malah Loe ajakin debat!"ucap Alvin frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"sudahlah cepat minum, ini bisa membantumu untuk menetralisirkan alkohol yang ada di dalam tubuhmu" dengan bermalas-malasan dan di bantu Shilla Alvin meminum minuman tersebut walaupun sebenarnya Ia tak ingin meminumnya namun karena wanita yang ada di hadapannyalah Ia meminum minuman yang di berikan Shilla. Shilla terlalu tegar untuk Alvin. Dia terlalu kuat. Namun sifat itulah yang membuatnya menyukai Shilla. Alvin menyukai Shilla? sejak kapan?. Sejak mereka bertemu yang pertama kali saat di pantai. Padahal sebenarnya yang kedua kali tapi karena pertemuannya yang pertama Dia sedang mabuk jadi Dia tak ingat. Dan Dia menganggap bahwa pertemuannya di pantai saat itu adalah yang pertama. Alvin telah menghabiskan setengah kaleng dari minuman tersebut. Lalu Ia menenggelamkan wajahnya di tekukan lutut sama seperti yang Ia lakukan saat di rumahnya tadi.
"Gue benci hidup Gue, Shill!. Kenapa gak Gue aja yang mati, biar Gue bahagia"
"hey,Kamu tak boleh membenci hidupmu apalagi menyesali yang sudah terjadi. Seharusnya Kamu mensyukurinya. Dan kalaupun Kamu mati Kamu belum tentu bahagia"
"mensyukuri? haha," Alvin tertawa sinis "gak ada yang harus di syukurin,Shill. Dan tadi apa kata Loe,kalaupun Gue mati Gue belum tentu bahagia? itu memang benar. Gue belum tentu bahagia tetapi setidaknya Gue gak denger orang tua Gue berantem dan nangis gara-gara kakak Gue yang udah gak ada" Shilla tertegun dengan penuturan Alvin yang menurutnya sangat menjengkelkan dan berprilaku 'brandalan'. Ternyata memiliki sebuah luka yang teramat dalam di dasar hatinya. Shilla mengusap lembut bahu Alvin.
"tak perlu menyesali yang sudah terjadi,Alvin. Jika memang ini sudah terjadi yasudah biarkan saja. Mungkin ayah dan ibumu masih belum terima kematian kakakmu tapi bukan berarti mereka tak menyayangimu. Dan Kamu tak perlu melampiaskan kemarahanmu dengan mabuk-mabukkan seperti ini" Alvin terdiam sesaat lalu menarik tangan Shilla untuk kembali ke rumah masing-masing.
"hey,Kamu mau membawaku kemana?"
"Loe harus pulang,besok Loe harus bangun sebelum matahari terbit!"
"tapi,besok Aku takkan memotret sunrise"
"Aku takkan menyuruhmu untuk memotret sunrise"
"Kamu,memakai bahasa yang sopan? seperti bukan dirimu saja" Shilla memalingkan wajahnya dari Alvin
"Aku memang selalu memakai bahasa yang sopan" Shilla kembali menoleh kali ini dengan tatapan sebal
"lalu,padaku? Kamu tidak pernah memakai bahasa yang sopan. Hanya kali ini saja"ucap Shilla sambil menunjuk dirinya sendiri
"itu memang mau ku untuk tidak memakai bahasa yang sopan padamu"ucap Alvin dengan pandangan lurus ke depan.
"aw!" Shilla mecubit pinggang Alvin sekerasnya sampai Alvin meringis kesakitan. Kali ini Alvin memandang ke arah Shilla.
"Kamu kenapa mencubit pinggang ku!?"tanya Alvin
"itu memang mau ku untuk mencubit pinggang mu"jawab Shilla sambil menjulurkan lidah dan berlari menjauhi Alvin.
"hey!" Alvin mengejar Shilla yang sudah lumayan jauh dari Alvin. Shilla terkikik sambil terus berlari menjauhi Alvin.

   Beep-beep. Beep-beep. Alarm Shilla telah berbunyi sangat nyaring. Shilla menggeliat lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan semangat. Setelah selesai Ia memakai celana panjang dengan baju tanpa lengan berwarna krem dengan motif bunga-bunga tak lupa kamera yasicha 108 yang Ia gantungkan di lehernya. Suara ed sheeren terdengar nyaring dari handphone Shilla dan di layar telephone tertera nama Alvin. Shilla segera mengangkatnya.
"hallo"sapa Shilla
"Aku sudah ada di bawah, cepatlah turun!"ucap Alvin dengan nada memerintah
"Kamu ini suka sekali memerintah"
"cepatlah! Kamu mau membuatku lumutan karena menunggumu terlalu lama"
"iya, iya, Aku akan turun. Tunggu sebentar!" Shilla menuliskan sebuah surat di kertas berwarna biru langit dan menempelkannya di kulkas karena Goldi dan kedua orang tuanya belum bangun. Ia segera turun menemui Alvin yang sudah menunggunya. Setelah menengok ke arah Alvin Shilla langsung berjalan mendahului Alvin. Alvin melongo. Menatap bingung ke arah Shilla. Shilla berhenti berjalan dan menengok ke arah Alvin.
"cepatlah, nanti kita tidak jadi melihat sunrise di pantai" Alvin menghembuskan nafasnya lalu melangkah mendekati Shilla. Mereka berjalan bersama menuju pantai. Mereka sampai di waktu yang tepat saat matahari akan terbit atau sunset akan terjadi.
"Shilla,Aku akan berjanji satu hal padamu"
"janji apa?"
"Aku tidak akan mabuk-mabukkan lagi ataupun pergi ke club malam"
"oh ya? bagus lah kalau begitu"
"hanya itu reaksimu!?"
"lalu Aku harus bereaksi seperti apa? apa Aku harus bereaksi seperti 'oh ya? bagus lah kalau begitu' seperti itu?"ujar Shilla heboh. Alvin terkikik mendengar ucapan Shilla. lalu berhenti terkikik dan berkata serius.
"Aku mencintaimu" Shilla cukup tersentak mendengar ucapan Alvin. semburat warna merah jambu muncul di kedua pipinya. Hatinya melanglangbuana. Melintasi jutaan moment bahagia. Dan ini adalah moment paling bahagia dari yang bahagia. Merasa tidak percaya dengan yang di ucapkan oleh Alvin. Apakah Ia sedang bermimpi? atau ada yang salah dengan pedegarannya?.
"jadi bagaimana denganmu?"tanya Alvin. Dari wajahnya terlihat Ia sangat berharap Shilla menerima cintanya.
"Aku? Aku juga mencintaimu" Alvin tersenyum begitu pun dengan Shilla.
   Matahari telah terbit dan menghasilkan warna orange yang indah. Sangat indah. Seindah hari ini. hari yang sangat bersejarah. Karena hari ini adalah hari dimana mereka akan memulai kisah cinta mereka yang baru.
                                      TAMAT
**maaf kalau jelek
**jangan lupa comment

habisin pulsa :')






Makasih banget buat luthfiah yang udah ngasih tahu anime ini ke Aku dan makasih juga buat Vieri karena udah ngasih filmnya ke Aku. Maaf kalau mintanya maksa ya, Vi...

False Hope

What makes someone loves someone else ?. The answer is hope. Because hope love it there. And because love is hope. But what if the hope was only expectation alone. Not be real. Even apparent. This is my story. I wrote the story of ordinary sheet-by-sheet in my diary. yes, false hopes. Many people who give a lot of hope but also people who just gave an unreal expectation. Apparent. Even false. Perhaps a word called 'false hope' that is familiar in the ears of teens today. I never understood exactly what the motives of a man comes to a woman's life and touched him and then made him fall in love, but after that he left her. Now that's what I feel. He came. Touched my heart. Made me fall in love. Then he went. He never felt what it is like when it became I were a 'victim' was false hope. Because of which he knows to make a woman love is enough. But He never understood what it was like falling and love. Sick and unhappy. But do not know when it comes happiness. I even thought that the man had never felt the love a person feels pain. Waiting for someone even many years. Which may he knows or who is in his thoughts just like. Then declare it. Simple. Is that love as easy as that in the mind of a man ?. Maybe.

**sekalian habisin pulsa :')

Palang Merah Remaja (BARAYA)


Terima kasih udah mau jadi keluarga kedua buat Aku. Kalian semua moodbaster Aku. Disini Aku bisa tahu banyak hal. Kalian semua adalah orang yang terbaik yang pernah Aku kenal terutama sahabatku Luthfiah Ananda Putri. Kamu adalah sahabat terbaik yag pernah Aku kenal. Aku sangat terima kasih pada ekskul ini karena selain mendapatkan banyak ilmu tentang kesehatan Aku juga dapat sahabat yang baik, temen yang asyik dan heboh terutama komandan PMR  ku yang heboh Fajrin Tania Nur Alifia. Dia adalah komandan yang selain tegas da baik dia juga adalah orang yang heboh naun asyik. Mereka semua ada;ah orang yang terbaik yang pernah aku kenal. Luthfiah, Fajrin, Nova, Salma, Taurel, Mentari, Rani, Nur, Fenti, serta para pembina. Teh Anrin, Kang Ahmad, Kang Wahyu, Kang Wildan dan semuanya. Kalian semua mengajarkan banyak hal. Terima Kasih :). 


Mencintaimu saja sudah bahagia

Aku tahu, Aku yang jatuh cinta. Bukan dirimu. Aku paham aku yang memiliki perasaan terlebih dahulu kepadamu. Aku yang diam-diam memeperhatikanmu yang tanpa pernah kau sadari (atau mungkin kau sadar tapi pura-pura tidak sadar) Aku sering mencari perhatianmu, Aku hanya ingin melakukan seseuatu agar kau melirik aku. Hanya ingin kau tahu ada orang yang dengan sepenuh hati ingin kau tatap. Meski sejujurnya, dengan berada di sampingmu tanpa pernah kau tahu perasaan ku pun sudah bahagia.

Aku hanya ingin menumpangkan rindu di dadamu. Bukan untuk memaksamu memilikinya. Aku hanya ingin menumpang harap di pelukmu. Bukan untuk memaksamu mewujudkannya. Aku hanya ingin menintaimu, tanpa pernah memaksamu untuk kembali membalas cinta. Aku hanya ingin melakukan hal-hal yang tak membuat hatiku menyesal nanti bila aku tak melakukannya.

Kelak jika doa-doaku tidak pernah di kabulkan tuhan untuk bersamamu, Aku tidak akan pernah menyesal telah memanjatkannya dalam pagi-pagiku yang dingin. Dalam malam-malam ku yang ingin. Dalam rindu-rindu yang sepi tanpa pernah merasakan peluk yang pasti.

**Boy Candra


**semoga kamu baca :)   

Secret Admirer


       
 Aku hanya bisa menyukainya dalam diam. Secara rahasia. Hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Memberi secarik kertas dengan ucapan selamat pagi dengan permen karet kesukaannya. Tidak ada yang bisa ku perbuat selain itu.

***
        Saat matahari baru saja keluar dari tempat persembunyiannya. Aku sudah siap berangkat ke sekolah. karena itulah kebiasaanku. Berangkat sangat pagi untuk melakukan kegiatan yang biasa kulakukan setiap harinya.
Di kelas....
     saat ku pastikan kelas masih sepi Aku segera masuk ke dalam kelas lalu menaruh secarik kertas dengan satu bungkus permen karet kesukaan Rio.
      Rio. Nama yang selalu Aku harapkan untuk bersama denganku selamanya. nama yang selalu Aku selipkan di setiap doaku. Nama yang selalu Aku khawatirkan saat terjadi sesuatu dengannya. Nama yang selalu Aku teriaki dan beri semangat saat pertandingan basket tiba. Nama yang selalu Aku banggakan dalam keadaan bagaimanapun. Bagiku Dia selalu menjadi yang terbaik.
       Aku segera keluar karena kalau ada yang melihatku rahasiaku sebagai 'secret admirer' Rio bisa terbongkar.
"Aren!"
Aku menoleh,segera tersenyum agar kepanikanku tidak terlalu kelihatan oleh lelaki berwajah oriental itu. 
"Alvin!"
Lelaki berwajah oriental itu segera bertanya. Pasti Ia akan bertanya mengapa Aku datang sepagi ini.
"mengapa kau datang sepagi ini?"
ya Tuhan. ternyata yang di pikirkan olehku benar. Aku harus jawab apa. Jika Aku jawab jujur pasti identitasku akan terbongkar.
"hm, Aku harus menaruh cerpen-cerpen adik kelasku di ruang jurnalistik"
Aku minta maaf, Alvin. Aku tidak bermaksud mebohongimu. Jika Aku jujur sia-sia saja usahaku untuk menjadi pengagum rahasia Rio selama ini. Alvin mengangguk lalu menarik tanganku masuk kedalam kelas. Aku duduk di depan meja Alvin. Sembari menunggu murid yang lain datang, kami berdua pun mengobrol berdua di kelas. Terdengar suara hentakan kaki memasuki kelas. Spontan kami berdua menoleh. Rio tersenyum pada Aku dan Alvin.

***
   Senyuman itu. Senyuman yang selalu Aku percayai untuk jadi milikku seutuhnya. Senyuman yang hanya di berikan untukku setiap harinya. Pagi, siang, sore ataupun malam senyuman itu hanya di berikan padaku. Bukan untuk orang lain. Aku tahu ini terlalu egois tapi aku tidak ada salahnya bukan untuk egois dalam hal mendapatkan senyuman termanis itu hanya untukku?

***
   
Istirahat telah tiba. Semua murid langsung berhamburan keluar kelas termasuk Aku dan Alvin. Aku langsung memesankan makanan untukku dan untuk Alvin. Setelah Aku kembali dengan makanan dan minuman di nampan. Rio. Rio duduk di sebelah Alvin, tepat dimana kursi yang biasa ku duduki.
Alvin bertanya padaku.
"eh,Ren bolehkan Rio gabung sama kita?"
Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyuman yang manis tentunya. Aku langsung menyimpan semangkuk mie ayam dan jus jeruk untukku dan untuk Alvin. Lalu duduk di sebelah... Rio. Jantungku berdegup tak karuan. Tapi rasa bahagia ku mulai meredup. Aku di jadikan obat nyamuk oleh mereka berdua -Alvin dan Rio-. Mereka malah asyik mengobrol berdua sampai Aku di lupakan.
"asyik banget, sih, sampai lupa ada temennya satu lagi disini"
mereka berdua terkekeh lalu berkata.
"hehehe.. maaf ya"
"huh.."
".... emang kalian lagi ngomongin apa sih?"lanjutku
Alvin menjawab dengan enteng.
"lomba basket"
Aku langsung bertanya dengan antusias.
"oh ya? kapan?"
lagi-lagi yang menjawab Alvin.
"dua hari lagi"
~ ~
    Pertandingan basket telah tiba. Aku telah duduk di kursi penonton untuk melihat Alvin dan Rio tentunya. Rio dkk. Sudah berada di lapangan begitu juga dengan tim lawan yang sudah siap. Pertandingan pun di mulai. Rio memasukan bola ke dalam ring beberapa kali begitu pun dengan Alvin Ia melakukan lay-up yang sangat keren.

***
    Aku ingat saat pertama melihat Rio bermain basket di lapangan in-dorr di sekolah. Sangat memukau. Membuat orang yang melihatnya menjadi takjub dengan permainan basketnya. Walau peluh sudah memenuhi wajah dan seragam basketnya ia tetap terlihat keren dan tampan. Saat Ia memasukan bola ke dalam ring di detik terakhir membuat semua orang yang melihatnya semakin berdecak kagum. Ia membuat bangga sekolah dan semua orang yang menyaksikan maupun mendengarnya.

***
    Pertandingan telah usai dan sekolah kami kembali mendapat juara pertama dalam bidang olahraga ini. Aku segera menghampiri kedua lelaki yang berbalut pakaian basket yang sudah di peuhi oleh peluh, yakni Alvin dan Rio lalu memberinya handuk dan air mineral. Aku mengacungkan kedua jempolku dan berkata.
"kalian keren!"
Alvin dan Rio pun tersenyum lalu menjawab
"thanks,Ren"
"thanks Aren"
Alvin mengacak pelan rambutku sampai membuat rambutku sedikit agak berantakan. Aku menghembuskan nafas, pura-pura kesal dan merapihkannya kembali.
       
        Untuk pertama kalinya Aku pulang bersama Rio. Di perjalanan hanya terdengar suara hentakan kaki saja. Ya, kami pulang dengan berjalan kaki. karena rumah kami tidak begitu jauh dari sekolah. Setelah beberapa saat bungkam, akhirnya salah satu dari kami ada yang membuka suara. Yaitu, Rio.
"eh, beberapa hari ini Aku sering dapet surat sama permen karet, kira-kira kalian tau gak siapa yang kasih?"
       DEG. Aku terdiam. Terdiam mendengar ucapan Rio. Tapi terus berjalan mengikuti langkah kaki kedua lelaki ini. Dalam hati Aku berdoa semoga rahasiaku sebagai pengagum rahasia Rio tidak terbongkar.
Alvin mengangkat bahunya "emang sejak kapan orang itu kasih surat sama permen karet ke kamu?"tanya Alvin tanpa memandang wajah Rio. Rio menjawab.
"dua minggu yang lalu" Alvin manggut-manggut.
      Tak terasa kami telah sampai di depan rumah Rio. Rio langsung masuk ke dalam rumahnya setelah berpamitan pada kami dan setelah mendengar jawaban kami yang menolak untuk mampir sebentar ke rumah Rio. Alvin kembali mempertanyakan tentang seseorang yang memberi secarik kertas dan permen karet pada Rio. Aku hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu hanya berpura-pura tidak tahu.
~ ~
   Mentari bersinar terang. Kicauan burung telah terdengar merdu. Seperti biasa Aku sudah duduk manis di jok mobil belakang dan siap di antar ke sekolah oleh pak Septian. Aku melihat sekolah dari balik kaca mobil. Masih terlihat cukup sepi. Aku turun dari mobil dan segera ke kelas sebelum ada yang datang yang mendahuluiku.
     Dengan lagkah yang cukup cepat Aku langsung berada di depan meja Rio dan menaruh secarik kertas dan permen karet. Aku harap tidak ada orang yang melihatnya. Aku keluar kelas dengan langkah seperti saat Aku masuk ke dalam kelas. Saat di luar kelas aku melihat Alvin sedang berdiri dan asyik berkutat dengan ponselnya. Aku terkejut kalau-kalau Alvin melihatku sedang menaruh secarik kertas dan permen karet di meja Rio. Aku berkata dengan gugup.
"Alvin,sejak kapan kamu ada di sini?"
"baru saja"
      Fuh, lega. Ternyata Alvin baru saja datang dan tidak melihatku sedang menaruh secarik kertas itu dan permen karet. Lalu Rio datang dengan seorang wanita berambut panjang dan berwajah tirus. Tunggu, sepertinya wanita itu tidak asing bagiku. Hm, siapa ya?.. oh ya dia Alyssa. Teman sekelasku juga tapi Aku tidak begitu akrab dengannya. Tapi kenapa Dia bersama Rio. Lalu Alvin menggoda Alyssa.
"berduaan aja, nih ceritanya?"
semburat warna merah merona terlihat di pipi Alyssa. Rio langsung menjawab.
"apaan sih, yuk ah ke kelas, Ssa" Rio langsung menarik tangan Alyssa menuju kelas. Aku dan           Alvin juga masuk ke dalam kelas.
"tuh kan, ssa apa Aku bilang? ada yang suka ngirimin permen karet sama kertas ke meja Aku" cerca Rio. Alyssa langsung mengusap bahu Rio dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tunggu, tadi Aku bilang apa? penuh kasih sayang ? memangya Rio dan Alyssa ada hubungan apa, pakai ada acara penuh kasih sayang segala?.
"sabar ya, Yo mungkin Dia emang suka sama Kamu dari dulu" ucap Alyssa
"tapi ini setiap hari, Ssa Aku gak suka aja"
     A...ap..apa? Rio gak suka? berarti Rio gak suka sama barang pemberian Aku dan termasuk Aku? nggak, Aku harus optimis, Rio emang gak suka sama barang pemberian Aku tapi pasti Rio suka sama Aku.
~ ~
    Waktu istirahat telah tiba. Aku, Alvin, Rio segera ke kantin tapi sekarang di tambah satu orang yaitu, Alyssa. kata Rio, Dia akan memberi tahu sesuatu pada  kami. Entahlah itu apa. Tapi kata Dia yang jelas itu kabar gembira.
"mm, guys Aku mau kasih tau, kalau Aku dan Alyssa. kita..."   tunggu,kita? apa maksudnya? semoga ini kabar gembira untukku dan hatiku.
"udah resmi jadian tadi malam"
         DAR!!. Seperti ada suara petir dalam hatiku. Aku tidak pernah bisa menyangka bahwa Aku akan mendengar kabar yang seperi ini. Aku tidak menyangka bahwa Rio dan Alyssa akan jadian. Aku langsung lari dari situ. tidak peduli apa yang mereka katakan dan pikirkan. Aku berlari menuju tempat yang jauh dari tempat di mana kesedihan itu berasal.

***
     Kenyataan memang tak selalu sama seperti yang di harapkan. Kadang kenyataan lebih pahit dari harapan dan terkadang lebih kejam dari harapan. Harapan itu seketika sirna begitu saja saat kata yang tidak di inginkan itu terucap manis dari bibirnya. Kini tak ada lagi yang bisa di harapkan dari semua itu. Yang tersisa hanyalah tangisan kecewa. Yang ada hanyalah kekecewaan, kepedihan dan kesakitan yang mendalam. Kini aku tahu bahwa dia tidak akan menjadi milikku.

***
  
terasa ada tangan besar dan kokoh yang menyentuh bahuku. Aku menoleh dengan wajah yang di banjiri oleh air mata. Orang itu duduk di sampingku.
"Aku tahu, Kamu sakit dan kecewa, tapi biarkan Dia bahagia, Ren.. karena Kamu pun akan bahagia"
Aku menatap nanar ke arah lelaki yang memiliki wajah oriental. Sungguh Aku tidak mengerti apa yang Ia maksud.
"bahagia? bagaimana Aku bisa bahagia, dua tahun Aku menunggu cinta Rio, Vin, tapi Dia malah pacaran sama Alyssa"
lelaki berwajah oriental ini yakni adalah Alvin langsung mengusap air mataku.
"udah, Ren biarin Rio bahagia, ada seseorang yang lebih cinta ke Kamu melebihi cinta Kamu ke Rio. Dia udah nunggu Kamu selama empat tahun ini"
sungguh, Aku tidak menyangka dengan perkataan Alvin. Yang di katakan Alvin itu benar adanya atau hanya semata-mata untuk menghiburku saja.
"jangan buat Aku berharap lebih tinggi lagi, Vin aku takut jatuh lagi dan sakit lagi"ucapku lirih. Aku kembali menitikan air mata. Dan Alvin kembali menghapus air mataku.
"jika Kamu akan jatuh dan sakit lagi Aku akan jatuh dan sakit bersamamu karena Aku yang memberikan harapan itu dan akan membuat harapan itu menjadi kenyataan..." Alvin menjawab dengan lembut. Tidak dingin seperti biasanya.
"dan Aku yang menunggumu selama empat tahun ini"
Aku menatap Alvin cukup lama, bingung harus menanggapi apa. Tangan Alvin kembali bergerak menghapus air mataku.
"Kamu hancur? Aku juga hancur. Bahkan lebih hancur, Ren. Hancur, waktu Aku liat orang yang Aku sayang nangisin orang lain"
Aku menangis lagi. Dan saat ini aku mencerna perkataan Alvin, mencoba mengerti. Alvin menarikku dalam rengkuhannya. Membuatku cukup tenang.
"A..l..v..i..n..."
"Aku nggak mau Kamu nangis gara-gara Rio, Ren" Aku mengangguk lalu berkata
"ajari Aku untuk mencintaimu, Alvin"

***
    Aku terlalu bodoh karena tidak bisa melihat kebahagiaan dalam sisi yang lain. Karena selama ini yang Aku tahu, kebahagiaan itu adalah Dia. Terkadang Tuhan membanting Kita jatuh untuk menyadarkan Kita bahwa apa yang Kita pertahankan selama ini salah. Aku sayang Dia, tapi bagaimana denganya? dan Aku pun sadar bahwa titik puncak tertinggi cinta itu adalah merelakan kepergiannya.
***
"selamat ya, Ren, Vin longlast deh buat kalian berdua"
"Alvin, longlast ya sama Arennya"
Aku dan Alvin tersenyum mendengar ucapan Rio dan Alyssa. Rio lalu berkata.
"by the way, thanks ya, Ren udah kasih permen karet setiap harinya ke Aku"
Aku sedikit terkejut dan bertanya-tanya dari mana Rio tahu itu semua. Apa Alvin memberi tahu semuanya pada Rio.
"kaget kan? Aku tahu dari Alyssa Dia pernah liat Kamu naruh secarik                  kertas sama permen karet di meja Aku"
Aku tersenyum lalu mengangguk. Alyssa pun tersenyum padaku.
     Kami tertawa bersama dengan seragam kami yang di penuhi oleh pilox warna-warni. Kami semua sudah lulus dan juga kami berencana untuk masuk ke universitas yang sama di kota kami. Alvin merangkulku dengan mesra dan Rio merangkul Alyssa dengan mesra juga.

                                               THE END


**sorry kalau jelek
**maklum masih belajar :)  
**jangan lupa comment :)   
   

Selasa, 08 Desember 2015

BARSASKA (IX K)

Sebentar lagi kita akan berpisah. Akan menemukan teman-teman yang baru. Susah senang kita lewati bersama *meskipuntaksemuasusahkitalewatibersama. Banyak kenangan disini yang tak boleh kita lupakan. Memang tak banyak kenangan yang indah di sini tapi kita tidak boleh saling melupakan. Di sini banyak kenangan yang mungkin di sekolah baru kita tidak akan mendapatkannya. Di sini tidak ada yang namanya saling membenci,walaupun kita tahu tak semua orang yang ada di sini selalu menyenangkan. Kita disini bukan hanya teman tapi telah
menjadi keluarga:).


Laki-laki:
-Albert Krista Forus
-Ar-Rafi Maulana
-Burhan Nuriansyah
-Hanif Burhanudin
-Irsandy Ekka Saputra
-Khaerul Fadillah
-Muhammad Firman Djaya
-Miftah Farid Zaelani
-Roni Rusmana
-Rully Pratama
-Saeful Nasrululloh
-Vieri Nuril Falah

Perempuan:
-Anisa Arta Melvia
-Anisa Indria
-Ariska Duri
-Dipa Karunia Pranadewi
-Elvina Tri Utami
-Imas Desi Siti Hafsah
-Kiki Sugiati
-Laela Nur Azizah
-Rizka Andriani Suherman
-Sinta Mardiah
-Siti Hanifa Nurentang Fitriani
-Syifa Fauziah Hasanah
-Winda Ashiifa
-Yanti Mulyani

The member of IX K
 

Senin, 07 Desember 2015

History Of Creepypasta

  Creepypasta dasarnya cerita horor di internet, diedarkan di forum dan situs lainnya untuk mengganggu dan menakut-nakuti pembaca. Nama "Creepypasta" sendiri diambil dari kata "CopyPasta", sebuah istilah internet untuk teks yang akan di salin dan di sisipkan lagi dan lagi dari situs ke situs web. Creepypasta kadang di lengkapi dengan gambar, audio dan atau rekaman video yang berhubungan dengan cerita, biasanya dengan konten berdarah atau mengejutkan.